Monday, October 5, 2015

Book Review: Sirah Nabawiyah (by Syeikh Shafiyyurahman Al Mubarakfuri)

Karya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri ini adalah buku sirah yang paling dikenal di kalangan para pembaca. Pasalnya, metode yang digunakan cukup representatif dan dapat memberikan gambaran utuh mengenai hidup dan perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Buku ini juga mendapat penghargaan sebagai Juara I Lomba Penulisan Sejarah Islam Rabithah Al Alam Al Islami, Saudi Arabia. Inilah sebabnya yang menjadikan buku ini sebagai rujukan yang paling banyak digunakan dalam pembelajaran sejarah peradaban umat.

            Sejarah memang unik. Ia dapat berperan sebagai sarana edukatif dan juga dapat menjadi hiburan di tengah keterpurukan umat dewasa ini. Sesungguhnya sejarah Islam sungguh agung. Bukan hanya karena sosok Rasulullah dan para sahabat yang dikenal sebagai generasi umat terbaik (khairu ummah), tetapi juga faktor ideologi Al Islam yang sangat kuat terinternalisasi dalam diri-diri mereka. Betapa tidak imperium super power kala itu (Romawi dan Persia) takluk di tangan mereka. Ini bukan tentang masalah pengenangan romantisme sejarah, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita mengambil spirit perjuangan dakwah dan tarbiyah sang Nabi. 
Jangan sampai kita hanya mengambil abu sejarahnya saja, tetapi ambil juga api sejarah dalam sirah nabawiyah ini. Karena Rasulullah dan para sahabat adalah memang sengaja Allah hadirkan sebagai contoh terbaik sepanjang zaman. Mereka mengajarkan kita tentang idealisme dalam perjuangan, pengorbanan, rasa cinta, dan cita-cita luhur akan perbaikan tataran dunia.

            Sebelum Rasulullah diutus, kondisi dunia Arab kala itu adalah bangsa yang terpinggirkan, sering berkecamuk perang, penuh dengan ketidakadilan, dekadensi moral, degradasi akidah, hingga tak mengenal lagi asas ketauhidan yang dulu pernah diajarkan oleh Nabi Ismail dan Ibrahim ‘alaihimassalam. Kerajaan yang ada dan silih berganti tak lebih hanya sebagai sarana pemenuh hawa nafsu akan harta dan wanita. Bangsa Arab yang terletak pada geografis dan geopolitik yang strategis butuh segera dibenahi. Dan pada pertengahan abad ke-6 lahirlah seorang pria yang kelak namanya terabadikan dalam sejarah. Bukan hanya sebagai nabi dan rasul, tetapi juga The Most Influential Person in History.

            Muhammad lahir dari kalangan suku yang terpandang di kalangan bangsa Arab, yakni Suku Quraisy. Merekalah keturunan Ibrahim AS yang berhak dan memiliki wewenang dalam pengelolaan ka’bah. Maka, tak heran saat Muhammad menyerukan Islam yang dianggap baru, maka para petinggi Quraisy resah, gelisah, dan seolah kehilangan arah. Mereka merasa terancam sistem ideologi berhala dan hegemoni ekonomi yang selama ini telah membuat mereka nyaman dan terbuai. Sehingga, sangat logis jikalau mereka tak sudi menerima ajakan Muhammad, bukan karena kepribadian sang penyerunya, tetapi lebih pada kesombongan yang membuat hidayah tak mau menghampiri. Perang kepentingan pun tak dapat dihindari. Sejak kemunculan risalah yang penyempurna ini, para pejabat teras Quraisy dibuat pusing dan terus berdebat di parlemen Darun Nadwah untuk bagaimana caranya menghentikan dakwah Islam. Berbagai perlawanan dilakukan. Mulai dari penyerangan psikologis dengan menghina, embargo ekonomi, hingga pada upaya pembunuhan yang terisistem. Dan memang sudah menjadi sunnatullah bahwa semua rasul yang diutus pasti akan menghadapi berbagai tekanan, rintangan, hingga ancaman yang sungguh luar biasa.

Berbagai strategi dakwah, Rasulullah lakukan. Mulai dari menyeru kerabat dan sahabat terdekat secara sembunyi, lalu terang-terangan ke kabilah-kabilah Arab, hingga ekspansi ke luar negeri (Thaif dan Habasyah). Bahkan, sampai era dakwah memasuki fase Madinah, angkat senjata pun dilakukan untuk menjamin kemurnian akidah dan keberlangsungan risalah. Perjuangan adalah keniscayaan yang tak pernah menjadi pilihan. Bahkan, terkadang peperangan yang terjadi lebih pada sebuah pembuktian enititas dan penentuan eksistensi umat. Dengan semangat jihad yang terus digelorakan sang rasul, kaum muslimin hampir selalu memenangi medan dengan jumlah pasukan yang lebih sedikit dibandingkan serdadu kaum kuffar.

            Kaum kafir Quraisy pun akhirnya menyerah. Tanda-tandanya terlihat saat mereka akhirnya harus terikat perjanjian gencatan senjata di Hudaibiyah. Konsekuensinya, mereka harus mengakui kekuatan kaum muslimin. Mereka tak lagi menganggap remeh, bahkan beberapa di antara mereka menyatakan masuk Islam. Dalam memanfaatkan kondisi tenang ini, Rasulullah melakukan manuver dakwah lain, yaitu upaya korespondensi dengan berkirim surat kepada raja-raja dan penguasa di sekitar Jazirah Arab. Beberapa di antara mereka menerima hangat seruan dakwah Islam, meskipun tak sedikit juga yang menentangnya. Efek dari upaya ini setidaknya ialah mengenalkan kepada seluruh manusia bahwa Islam telah lahir dan kemunculan Muhammad sebagai Rasulullah yang terakhir menjadi bukti bahwa kedzaliman dan ketidakadilan akan segera berakhir serta akan siap menggoyang kekuasaan tiran yang selama ini berkuasa.

            Buah kemenangan dakwah berikutnya ialah berhasilnya penguasaan Kota Makkah yang sebelumnya menjadi basis perlawanan dakwah. Dengan ditaklukkannya Makkah, maka secara de facto dan de jure, Rasulullah telah menguasai pusat Jazirah Arab. Dan dari situlah kemudian dakwah ini menyebar untuk menebar dan menaburkan rahmat bagi seluruh alam. Meskipun Rasulullah tak lama setelah itu wafat, tetapi sejatinya perjuangan ini adalah nafas panjang.  Memang benar setelah Muhammad tak ada nabi lagi, tetapi generasi penerusnya: sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in adalah generasi terbaik umat ini berkat hasil kaderisasi sang Nabi.

            Dakwah Islam terus berlanjut hingga kini. Karena dakwah ini adalah kewajiban kaum muslimin. Dan sesungguhnya hakikat dakwah adalah al ishlah (perbaikan) menuju tataran dunia yang lebih baik. Dakwah ini mengajarkan kepada kita akan nilai-nilai luhur yang tak bisa kita temui di jalan-jalan lain. Di jalan dakwah kita sedang meniti jalur yang dulu para rasul dan sahabat lalui dengan penuh perjuangan. Dakwah ini pula yang bercerita tentang kepemimpinan sejati. Siapa yang bisa menyangkal kalau Muhammad adalah pemimpin besar sepanjang zaman dengan segala kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya? Sejak kecil terlatih di lingkungan yang kondusif dan sekaligus menantang. Saat belia sudah belajar menggembala kambing sebelum akhirnya dipercaya dalam membimbing umat ke jalan yang benar. Nabi Muhammad adalah manusia paling berpengaruh dalam pangung sejarah dunia. Posisinya kala memimpin Madinah saat itu jauh dibandingkan Kaisar Persia atau Romawi, lebih handal sebagai enterpreneur, jago bergulat, tangguh sebagai panglima militer, sebagai ayah yang baik, menjadi pemimpin di segala bidang.

            Semoga kita dapat senantiasa mengambil intisari dari perjuangan dakwah melalui sirah ini. Dan kita diteguhkan langkahnya hingga dapat bertemu manusia agung ini di surga kelak bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seluruh generasi terbaik yang pernah menghiasi taman perjuangan umat dengan siraman peluh dan darah. Aamiin.

No comments:

Post a Comment