Lagi-lagi peristiwa wafatnya rasul, selalu menahan kubikan airmata.
Menyadarkan kita bahwa iman dan ibadah harus terus menyala, meski
pembawa cahaya itu telah tiada. Apakah kalian tau apa yang terjadi pada
saat wafatnya rasul dengan 2 sahabat yang mencintainya?
Mendengar kabar bahwa rasul telah meninggal, Abu Bakar mengucapkan hamdalah dan “innalillahi wa inna ilahi rajiun”,
sementara air matanya mengalir begitu deras. Dengan hati tabah,
diayunkan langkah dengan tegap menuju rumah Rasulullah. Diperjalanan, ia
melihat malapetaka besar..kaum muslimin telah lupa daratan dan
kehilangan kesadaran!
Bahkan Umar bin Khattab, seorang sosok yang terkenal tangguh, berdiri di
hadapan khalayak ramai dengan menghunus pedangnya, sambil menyerukan:
"beberapa oknum dari golongan munafik mengatakan bahwa Rasulullah saw
telah wafat, padahal demi Allah ia tidaklah wafat, ia hanya pergi menuju
Khaliqnya sebagaimana dilakukan oleh Musa bin ‘Imran. Demi Allah
Rasulullah pasti kembali dan akan datang memotong tangan orang yang
mengatakannya wafat. Ingatlah, siapa yang berani mengatakan Rasulullah
saw wafat, akan saya penggal batang lehernya dengan pedang ini!"
Abu Bakar Ash Shiddiq yang menyaksikan Umar, kemudian berkata: "Hai,
Kaum muslimin! Barang siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad
telah wafat, dan barang siapa menyembah Allah, maka Allah tetaplah hidup
dan tidak akan mati!"
Ucapan tersebut diiringi dengan membacakan ayat yang artinya: "Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya
beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kalian akan
berbalik ke belakang, maka ia tidak akan dapat mendatangkan mudharat
kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan memberi balasan kepada
orang-orang yang bersyukur.."
Kaum muslimin seakan-akan baru saja mendengarkan ayat ini untuk pertama
kalinya. Sedangkan Umar, demi diketahuinya dari kalimat-kalimat Abu
Bakar bahwa itu adalah kematian yang sebenarnya, ia pun jatuh ke tanah
tak sadarkan diri.
Lihatlah rasa cinta yang ditunjukkan Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khattab.
Jadi, pembuktian apa yang telah kita berikan kepada Rasulullah? Bukankah cinta itu butuh pembuktian?
Saya mengaku cinta pada Rasulullah, tapi sedikit sekali mengenal
Rasulullah. Mengaku mengidolakan Rasulullah tapi gaya hidup saya jauh
dari contoh-contoh akhlak Rasul. Pantaskah jika ini disebut cinta? Yaahh jauh sekali bila dibandingkan dengan para sahabat, tak pantas rasanya bila dibandingkan.
Zaid ibn Dutsnah, di tengah kecamuknya perang uhud dan tersebar
desas-desus kabar bahwa nabi Muhammad telah terbunuh, seorang perempuan
berlari memasuki wilayah peperangan dan mencari-cari Rasulullah Saw. Ia
melihat saudara-saudaranya telah menjadi mayat. Begitu ia tahu bahwa
Rasulullah masih hidup, perempuan itu berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tak akan memedulikan apapun yang menimpa diriku selama engkau selamat.”
Saat menjelang ajal Bilal ibn Rabah, istrinya menangis tersedu-sedu. Namun Bilal berbisik “Sungguh gembiranya aku.. Esok aku akan bertemu dengan orang-orang yang ku kasihi. Muhammad dan sahabat-sahabatnya.”
Bagaimana mungkin ada orang yang mencintai sedalam itu bila orang yang dicintai tidak lebih istimewa dari dirinya sendiri?
Selama ini kita melupakan Rasulullah, kita mencintai keluarga,
sahabat-sahabatk, namun sejatinya kita lupa siapa pembawa cahaya bagi
umatnya. Seharusnya tak ada keraguan untuk mencintainya sebegitu
dalamnya. Karena di detak-detik terakhir yang beliau pikirkan hanyalah,
ummati ummati ummati.
Dalam khutbah terakhir, Rasulullah berdoa,
“Mudah-mudahan Allah menetapkan kalian, mudah-mudahan Allah meneguhkan
kalian, mudah-mudahan Allah menguatkan kalian, mudah-mudahan Allah
menjaga kalian…”
Bahkan disaat sakratul maut yang rasanya
seperti ditariknya kulit dari tubuh, Rasulullah masih sempat mendoa
lirih kepada Allah, “Ya Allah.. sungguh dashyat maut ini. Timpakan saja semua maut (rasa sakit) kepadaku, jangan kepada umatku…”
Dalam sakitnya.. dalam lirihnya.. dalam doanya yang beliau ingat hanya kita, ummati ummati ummati.
No comments:
Post a Comment