Konichiwa everyone~!!
Hari ini saya kembali dengan review buku yang berjudul, Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Jadi minggu kemarin saya nyari makanan buat pipo, eh gak taunya tersesat di sebuah toko buku. Setelah menggenggam 3 buku di tangan, akhirnya memilih buku ini deh. Kepincut karena baca sinopsisnya yang bikin brebes mili. #hoho
Over all, saya suka sama ceritanya, yang mengangkat kisah Juna seorang pria darah biru kaya raya yang menjadi orang tua tunggal untuk Mada, anak laki-lakinya. Ceritanya 75% sedih, dan yang agak mengecewakan novel ini terlalu detail, jadi alur ceritanya agak tersendat. Misalnya dalam mendeskripsikan halaman rumah Juna, Mbak Kirana sampe menjelaskan sejarah dan filosofi taman Jepang dan tanaman bonsai. Untuk saya yang meyukai drama dan alur yang mengalir, ini cukup mengganggu. Akhirnya saya skip sekitar 10 lembar dari satu buku ini, hehehe.
Kisah cinta Juna dan Keisha (ibu Mada) juga gak diceritakan dengan jelas. Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ke-tiga, lagi-lagi saya kecewa karena kurang berasa greget perjuangan Juna sebagai single fighter. Harusnya dengan karakter Juna dan kisah hidupnya bisa terbangun karakter yang kuat dan gagah, hasilnya kuat dan gagah itu cuma ada di buku, gak bisa muncul di imajinasi saya -.-'v
Tapi, buku ini sarat beragam pesan moral. Yang paling menonjol adalah pesan untuk cinta budaya Indonesia, dalam beberapa chapter bahkan Juna bercerita soal filosfi batik dan baju adat Jawa. Keren! Dari buku ini saya baru tau kalo blangkon, beskap, keris, sarung dll itu punya makna yang dalam.
Buku ini cocok untuk yang suka novel yang gak menye-menye, cocok nih jadi bacaan sore hari. Bahkan katanya sih ada produser yang udah melirik untuk adaptasi novel ini ke film. Sebelumnya novel mbak Kirana yang Air Mata Terakhir Bunda juga udah diadaptasi.
Okay, kayaknya segitu dulu deh review tentang buku ini, be wait for my next review yaww~~ byebye!
No comments:
Post a Comment